Pada 26 November 2025, IAI secara resmi mengungkap bahwa kelangkaan dan harga obat yang tinggi di Indonesia bukan sekadar soal distribusi — melainkan hasil dari serangkaian masalah struktural yang membelit rantai hulu-hilir produksi dan distribusi obat. CNN Indonesia+1
IAI menekankan bahwa persoalan obat harus dilihat secara komprehensif: bukan hanya harga, tetapi juga aspek kualitas, kuantitas, waktu ketersediaan, dan distribusi di lokasi yang tepat. Kelima aspek ini, menurut IAI, kerap tidak terpenuhi secara bersamaan — sehingga meskipun obat tersedia di pabrik atau gudang, masyarakat tetap sulit mendapatkannya. Bloomberg Technoz+1
Dalam pemaparan yang disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal IAI, Audrey Clarissa, disebutkan bahwa perencanaan kebutuhan obat (RKO) sering kali tidak akurat karena data kebutuhan tidak diperbarui secara real-time — sehingga permintaan aktual di lapangan tidak sesuai dengan asumsi saat perencanaan.
Tujuh Faktor “Hulu-Hilir” Penyebab Obat Kosong & Mahal
Menurut IAI, ada tujuh faktor utama yang saling berkaitan dalam menyebabkan pasokan obat tersendat dan harga di tingkat fasilitas kesehatan menjadi mahal.
-
Perencanaan kebutuhan obat yang tidak akurat — Data pemakaian dan kebutuhan tidak real-time, sehingga prediksi jumlah obat yang dibutuhkan untuk suatu wilayah bisa meleset.
-
Distribusi tidak merata — Obat mungkin tersedia di pusat, namun distribusinya ke daerah terpencil atau luar Jawa sering terhambat, sehingga stok di daerah menjadi kosong.
-
Ketergantungan bahan baku impor — Industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada bahan baku luar negeri; ketika harga bahan baku atau biaya impor naik, harga jual obat ikut terpengaruh.
-
Biaya produksi dan biaya non-produksi tinggi — Selain bahan baku, ada biaya distribusi, penyimpanan, distribusi ke apotek/puskesmas, serta biaya tambahan seperti promosi atau advertisement yang dibebankan ke harga akhir.
-
Kebijakan pengadaan dan mekanisme tender yang lemah — Kadang pemenang tender dengan harga terendah tidak selalu dibeli, sementara pemasok lain dengan harga kurang bersaing bisa memasok — melemahkan efisiensi.
-
Manajemen stok dan logistik yang buruk — Tanpa sistem data real-time, stok di gudang pusat mungkin aman, tetapi di daerah bisa kosong — menyebabkan kelangkaan lokal padahal secara nasional ada persediaan.
-
Distorsi pasar & potensi penimbunan atau distribusi yang tidak adil — Dalam kondisi distribusi terhambat dan harga fluktuatif, terdapat ruang bagi oknum untuk ‘menguasai pasar’, menahan stok, atau memanipulasi harga.
Implikasi bagi Sistem Kesehatan dan Masyarakat
Kondisi obat kosong dan mahal ini memiliki dampak serius bagi layanan kesehatan dan akses masyarakat terhadap pengobatan.
-
Akses kesehatan timpang — Masyarakat di daerah terpencil atau luar Jawa berisiko tidak mendapatkan obat penting karena distribusi tidak merata.
-
Beban finansial meningkat — Harga obat yang mahal, terutama obat non-generik atau obat dengan hak paten, memberatkan pasien yang membutuhkan terapi rutin.
-
Efektivitas pengobatan bisa menurun — Jika obat tak tersedia tepat waktu atau pasien menunda pengobatan karena harga, hasil perawatan bisa kurang optimal.
-
Ketimpangan pelayanan kesehatan antar daerah — Daerah urban mungkin relatif lebih mudah mendapat obat, sementara daerah terpencil terus kesulitan — memperlebar kesenjangan.
Tantangan Reformasi & Kebutuhan Solusi Komprehensif
IAI menekankan bahwa mengatasi masalah ini bukan sekadar soal menambah impor obat atau menaikkan produksi — melainkan reformasi menyeluruh pada sistem perencanaan, distribusi, regulasi, dan produksi bahan baku.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
-
Membangun sistem data kebutuhan obat real-time di seluruh fasilitas kesehatan — agar RKO benar-benar mencerminkan kondisi aktual.
-
Memperkuat infrastruktur distribusi/logistik, terutama menjangkau daerah di luar Jawa dan kawasan terpencil.
-
Mendorong kemandirian bahan baku lokal, sehingga ketergantungan impor bisa dikurangi dan harga obat lebih stabil.
-
Meninjau ulang mekanisme tender & pengadaan obat, agar proses lebih transparan, efisien, dan distribusi adil.
-
Mengurangi biaya non-produksi berlebihan seperti iklan/promosi, yang menurut pejabat terkait turut membuat harga obat jadi tinggi.
Kesimpulan: Masalah Luar Biasa Kompleks — Butuh Upaya Terpadu
Pengakuan IAI menunjukkan bahwa krisis obat kosong dan mahal di Indonesia bukan sekadar fluktuasi pasokan — melainkan cerminan kelemahan sistem farmasi nasional di banyak aspek: perencanaan, distribusi, regulasi, produksi bahan baku, hingga biaya non-produksi.
Tanpa reformasi sistemik dan kolaborasi antara pemerintah, industri farmasi, apotek, dan pemangku kepentingan lain — persoalan ini sulit diatasi secara tuntas. Sebaliknya, jika dibiarkan, ketimpangan akses obat bisa memperburuk kesenjangan kesehatan, terutama bagi masyarakat di daerah terpencil.
Dengan demikian, upaya memperbaiki rantai hulu-hilir obat adalah langkah strategis yang mendesak agar kesehatan masyarakat bisa dijamin secara adil, aman, dan terjangkau.
